Penyakit Demam Berdarah Bagian 2

Penderita Dinyatakan Sembuh Jika:

• Sudah tidak demam alias suhu tubuh sudah normal, sekitar 36,5—37oC selama lebih dari dua hari. Umum nya, penurunan suhu berlangsung secara bertahap, tidak drastis. Kendati sudah diperbolehkan pulang, dokter dan orangtua tetap harus waspada. Sebab, dinginnya tubuh penderita bisa jadi karena syok yang beberapa saat kemudian suhu tubuh justru akan mengalami lonjakan atau kembali meninggi.

• Kadar trombosit sudah meningkat dua kali berturutturut dan melampaui angka 50.000/mm3. Jalani masa pemulihan di rumah agar kadar trombositnya kembali normal atau mencapai sekitar 150.000/mm3. Berikan makanan kaya vitamin, seperti jus jambu biji dengan kandungan vitamin C 3—4 kali lipat dibanding jeruk.

• Terlihat tidak terlalu lemas. Anak sudah mau minum.

• Nafsu makan membaik.

• Tidak mengalami perdarahan lagi, baik berupa mimisan, muntah darah, ataupun BAB disertai darah.

• Infus sudah dilepas. Ini menandakan anak tak memerlukan lagi tambahan cairan dari luar.

• Tidak mengalami sesak napas.

• Telah melakukan rawat inap di Rumah Sakit paling sedikit 3 hari sejak terjadi syok.

Sudah menjalani perawatan di RS minimal 3 hari sejak mengalami syok. Jika tidak mengalami syok, biasanya cukup dirawat 24—48 jam saja (selama fase kritis yang berlangsung pada hari ke-4—5 saja). Pasien DB yang berat sebaiknya menjalani perawatan di rumah sakit minimal 7 hari.

Penting Diperhatikan

• DBD yang disebabkan virus dengue ini ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albo pictus. Setelah diberi obat penurun panas lalu demam si kecil turun, Mama jangan langsung senang. Apalagi sampai menurunkan kewaspadaan. Sebab, bisa saja gejala perdarahan di dalam tubuh terus berlanjut. Apalagi, syok atau penurunan kesadaran sering disertai dengan turunnya panas. • Serangan DBD tak selalu menimbulkan bintik-bintik merah di kulit. Bila pecahnya pembuluh darah tak terjadi dekat kulit, tetapi di organ bagian dalam seperti di saluran cerna, paru-paru, ginjal, hati, atau organ lainnya, maka bintik-bintik merahnya tak akan terlihat.

• Tidak semua pasien DBD membutuhkan rawat inap di Rumah Sakit. Asalkan trombosit masih di atas 100.000/mm3, hitung an trombositnya bisa dipantau berulang setiap 12 jam sekali, masih demam hari pertama sampai ketiga, serta dapat makan minum dengan baik, maka anak masih dapat dirawat di rumah. • Pasien DBD harus mendapatkan cairan pengganti plasma darah. Bila kadar trombosit masih di atas 100.000/mm3 dan kebocoran plasma tidak hebat, cair an dapat diberikan per oral berupa minuman. Jika trombosit kurang dari 100.000/mm3 dan kebocoran plasma cukup berat harus diberikan cairan lewat infus.

• Jika penderita mengalami syok, ia harus dirawat di ruang intensif. • Bila kadar trombosit menurun drastis, tidak berarti harus dilakukan transfusi trombosit. Umumnya memang penderita DBD tidak memerlukan trombosit meskipun terjadi penurunan trombosit. Namun, dalam kondisi terjadi perdarahan yang bermakna dan trombosit mencapai kurang dari 20.000/mm3, maka transfusi darah dipertimbangkan.

• Selama dirawat, penderita DBD dilarang mengonsumsi makanan/minuman yang bisa menyebabkan rangsangan pada lambung, seperti soft drink dan makanan berbumbu tajam seperti pedas dan asam.

• Walau telah dinyatakan sudah sembuh, pasien tetap dianjurkan oleh dokter untuk tetap istirahat total untuk beberapa hari. Sehingga dapat pulih dengan cepat dan dapat beraktivitas normal kembali.

Penyakit Demam Berdarah

Waspadai Gejala DBD dari Hari ke Hari

• Hari ke-1: Mula-mula timbul demam tinggi mendadak, sekitar 40oC atau lebih. Badan lemas dan lesu. Biasanya demam tidak begitu mudah turun meski sudah minum obat penurun demam.

• Hari ke-2 atau ke-3: – Kemungkinan ditemukan bintik-bintik merah di kulit muka, lengan, paha, perut atau dada yang disebut petekie. Bintik merah ini tidak hilang meski kulit diregangkan, sedangkan bekas gigitan nyamuk biasa hilang. – Dalam kondisi agak berat dapat terjadi perdarahan, bisa dari hidung (mimisan), mulut atau gusi. Bahkan, dapat pula terjadi buang air besar bercampur darah.

• Hari ke-4 sampai ke-7: – Ini masa kritis penyakit DBD. Demam menghilang namun justru kondisi anak menurun. Trombosit pun semakin turun drastis. – Anak mengeluh perutnya kembung dan nyeri hebat, serta tidak dapat minum apalagi makan. – Bila keadaan menjadi parah, penderita gelisah, berkeringat banyak, ujung-ujung tangan dan kaki di ngin (ini disebut kondisi pre-shock). Ini terjadi karena aliran dan tekanan darah mengalami gangguan dan terjadi kolaps pembuluh darah. – Jika pre-shock berlanjut, penderita dapat mengalami shock. Tanda-tanda syok: panas turun tetapi anak bertambah lemas. Kesadaran menurun. Ujung kaki atau tangan dingin. Denyut jantung bertambah cepat namun nadi lebih lemah terabanya. – Bila tak segera ditolong, umum nya diikuti dengan gangguan pembekuan darah sehingga terjadi muntah darah atau BAB dengan tinja hitam seperti aspal. Artinya telah terjadi perdarahan berat di saluran cerna dan bisa berakibat fatal.

Segera ke Dokter Jika:

• Panas badan anak tak kunjung turun selama 3 hari. Sebaiknya jangan tunggu sampai 2—3 hari bila anak mengalami demam tinggi yang tak kunjung turun, baik disertai gejala lain (seperti lemas dan lesu, pusing) ataupun tidak. Pemeriksaan darah dilakukan setelah 3 hari demam tinggi tak kunjung turun. Mengapa? Virus dengue tampak dalam aliran darah di hari ke-3 setelah ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegypti. • Terjadi demam akut, yaitu tiba-tiba suhu mencapai 39 atau 40°C.

Positif DBD Jika:

• Kadar trombosit dalam darah di bawah 100.000. Sementara kadar trombosit yang normal berkisar antara 150.000—440.000/mm3. Pada hari pertama sampai ketiga, belum terlihat penurunan jumlah trombosit atau kebocoran pembuluh darah. Saat ini juga sudah ada pemeriksaan darah pendeteksi virus dengue sejak demam hari pertama, disebut pemeriksaan NS-1. • Hemoglobin (Hb) dan hematokritnya (volume darah) meningkat.

Penyakit demam sangatlah berbahaya untuk itulah mama harus waspada apabila si kecil mengalami demam. Sedangkan disisi lain bahasa juga sangat penting untuk anak agar memiliki keterampilan lebih. Lembaga pelatihan bahasa Perancis di Jakarta adalah pilihan terbaik untuk anak yang ingin mahir dalam berbahasa asing.

A-Z Inkubator Bagian 2

DIPANTAU TIM TEKNISI KESEHATAN

Untuk penggunaan inkubator tentu sudah memiliki SOP (Standar Operasional Prosedur)-nya. Bahkan setiap RS yang memiliki inkubator harus punya tim teknisi untuk memantau penggunaan dan perawatan peralatan khusus seperti ini. Secara garis besar, sebelum inkubator digunakan, harus dipastikan dalam kondisi bersih dan tidak ada kontaminasi kuman.

Dipastikan juga semua alat penunjangnya (yang mengatur aliran udara, pemanas suhu, dan kelembapan) dalam kondisi baik. Sebelum bayi dimasukkan dalam inkubator, suhu dalam ruang inkubator harus diatur dahulu agar tidak terlalu panas dan tidak kedinginan. Pengaturan suhu ini menggunakan pengatur suhu yang terintegrasi dengan inkubatornya. Jadi dapat diatur secara spesi!k, berapa suhu udara dalam inkubator yang dikehendaki dokter.

Bila suhu yang dikehendaki sudah dicapai, barulah bayi dapat dimasukkan dalam inkubator. Selama bayi dalam inkubator, suhu udara dalam inkubator dan suhu bayi tetap dipantau. Bila bayi sudah mencapai suhu tubuh normal, dapat diatur ulang tingkat pemanas inkubatornya. Inkubator yang berfungsi baik biasanya juga disertai alarm yang akan mendeteksi bila suhu melampaui batas atas (terlalu panas) maupun bawah (terlalu dingin).

Bayi dalam inkubator juga harus dipantau posisi dan kondisinya. Oleh karena itulah perawatan di unit perinatologi dan NICU harus sangat ketat. Setiap bayi yang dirawat di NICU umumnya ditangani oleh minimal satu orang perawat khusus. Tujuannya, agar perawatan dan pemantauan selama bayi dirawat dapat dilakukan dengan ketat dan baik.

YANG PERLU DIPERHATIKAN ORANGTUA

Sebenarnya tidak ada yang perlu dilakukan oleh orangtua manakala bayinya dirawat dalam inkubator. Karena perawatannya sudah menjadi tanggung jawab RS yang menangani. Hanya saja perlu diperhatikan beberapa standar perawatan di ruang bayi. Yaitu bila orangtua atau kerabat berkunjung, maka harus memerhatikan kebersihan agar dapat terjaga sterilitas ruangan dan inkubator.

Beberapa rumah sakit mengharuskan pengunjung mengenakan pakaian khusus untuk mengurangi kontaminasi. Selain itu tidak boleh membukabuka atau mengubah-ubah setting inkubator. Bila memang bayi boleh disentuh oleh orangtua, biasanya perawat akan memberi tahu dahulu bagaimana cara mensterilkan tangan yang benar. Memang ada kalanya orangtua melihat banyaknya alat atau selang infus bayi dan menjadi khawatir.

Untuk itu, mintalah penjelasan pada dokter mengenai apa saja yang diberikan pada sang bayi. Atau bila memang tidak dapat bertemu dengan dokter anak yang merawatnya, paling tidak minta penjelasan tentang kondisi bayi pada perawat khusus yang menanganinya. Nah, semoga Mama Papa semakin mendapat gambaran tentang apa itu inkubator!

A-Z Inkubator

Dalam konteks perawatan bayi, inkubator adalah semacam “kotak tempat tidur bayi” yang dirancang khusus untuk bayi dengan masalah medis. Fungsi utamanya agar bayi berada dalam lingkungan ideal demi perawatan masalah kesehatannya. Suhu udara dalam Inkubator dapat diatur sehingga bayi tidak kedinginan (hipotermia), namun berada dalam lingkungan yang sesuai kebutuhannya. Inkubator juga menjadi tempat berlindung bagi bayi dari kemungkinan kontaminasi kuman lingkungan sekitar.

Bayi yang dirawat dalam inkubator adalah bayi baru lahir yang membutuhkan perawatan dalam suhu lingkungan yang terjaga baik, dan bayi yang sedang dirawat karena masalah medis, baik di Neonatal Intensive Care Unit (NICU) maupun di Special Care Nursery (SCN). Bayi yang sakit dan dirawat dalam NICU umumnya adalah bayi yang sakit berat. Contoh, menderita gangguan napas, infeksi berat (sepsis), bayi yang menelan cairan ketuban, bayi prematur, bayi dengan berat badan rendah, bayi dengan kelainan bawaan berat, dan sebagainya. Posisi bayi dalam inkubator, akan diatur sedemikian rupa agar aman dan nyaman.

Pada saat ini, inkubator seakan menjadi “rahim” tempat tinggal bayi. Saat bayi dirawat di NICU, selain inkubator, digunakan pula berbagai peralatan medis lain, seperti alat bantu napas (ventilator). Inkubator juga digunakan untuk merawat bayi dengan kondisi sakit yang lebih ringan. Biasanya mereka dirawat dalam Unit Special Care Nursery atau sering disebut unit perinatologi. Perawatan di unit ini tidak menggunakan berbagai alat bantu lain, seperti ventilator (alat bantu napas), dan sebagainya.

Contoh kasus adalah bayi yang sudah stabil fungsi paru dan jantungnya namun masih memiliki berat badan rendah. Atau kasus bayi hiperbilirubinemia dan memerlukan terapi sinar biru (blue light). Inkubator juga digunakan untuk menstabilkan suhu bayi baru lahir yang cenderung kedinginan karena belum bisa beradaptasi, dari perubahan lingkungan rahim ibu yang hangat ke suhu ruangan perawatan bayi baru lahir.

Jadi, biasanya bayi baru lahir, meskipun cukup bulan, sehat, dan bugar (apalagi kalau bayi kecil), segera setelah dibersihkan akan dimasukkan dalam inkubator untuk memantau kondisi dan menstabilkan fungsi jantung, paru, dan suhu tubuhnya. Setelah beberapa jam dan dipastikan ia dalam kondisi aman dan tidak ada masalah, barulah bayi dipindahkan ke boks yang disiapkan untuk bayi sehat.

Hal penting lainnya yang perlu diperhatikan orangtua adalah masa depan anak. Ketika anak sudah dewasa dan akan menghadapi tes IELTS maka persiapkan ia melalui kursus IELTS terbaik di Jakarta.