Pasokan Air Menurun Akibat Kemarau Panjang

BEKASI — Kemarau panjang menyebabkan kekeringan di sejumlah wilayah Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, sejak beberapa pekan terakhir. Kesulitan memperoleh air bersih untuk keperluan sehari-hari mulai terjadi. Camat Cibarusah, Enop Can, mengatakan sedikitnya tiga desa di wilayahnya kesulitan air bersih karena sumur mulai mengering, yakni Ridomanah, Ridogalih, dan Sirnajati. Total sekitar seribu keluarga di Cibarusah yang setiap hari membutuhkan air bersih. “Air bersih sudah disalurkan kepada warga yang membutuhkan,” katanya, kemarin. Enop menerangkan, kekeringan terjadi sejak sebulan lalu yang terlihat dari sumur mengering dan Sungai Cipamingkis yang mengalami pendangkalan. Kondisi ini telah dilaporkan kepada Pemerintah Kabupaten Bekasi dan mulai beberapa pekan lalu Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menyalurkan air bersih ke tiga desa tersebut hampir setiap hari. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika melaporkan musim kemarau diprediksi hingga akhir Oktober mendatang. Padahal, mestinya September sudah memasuki musim hujan. Menurut Kepala Bidang Darurat dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Bekasi, Rasyid, sedikitnya tiga kecamatan dengan tujuh desa mengalami kekeringan, yaitu Serang Baru, Bojongmanggu, dan paling parah Cibarusah.

“Kami sudah menyalurkan 160 ribu liter air bersih kepada warga,” ujar Rasyid. Sejumlah warga di Desa Ridogalih memanfaatkan sumur buatan di aliran Sungai Cipamingkis yang menghasilkan air hasil “sulingan” tradisional. Ada pula yang membeli air per galon atau 19 liter seharga Rp 5.000. Yayah, warga setempat, mengatakan dalam sehari keluarganya membutuhkan minimal empat galon air bersih. Kemarau juga membuat debit air Kali Krukut, Jakarta Selatan, menurun sehingga mengganggu suplai air bersih ke pelanggan PT PAM Lyonnaise Jaya (Palyja) di sebagian kawasan tersebut. Menurut juru bicara Palyja, Lydia Astriningworo, indikasi debit air menurun terlihat dari kenaikan konsentrasi ammonium di Instalasi Pengolahan Air (IPA) Cilandak yang melebihi ambang batas maksimum sejak Agustus lalu. Lydia menjelaskan, untuk memastikan kualitas air tetap memenuhi standar, Palyja akan melakukan penurunan produksi dari 400 liter per detik (lps) menjadi 250 lps sesuai dengan kapasitas maksimum ammonium yang dapat diolah di IPA Cilandak. “Palyja memohon maaf atas gangguan dan ketidaknyamanan yang terjadi,” ujarnya dalam keterangan tertulis, kemarin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *